Rignolda Djamaluddin, PhD, pada 7 Desember 2012, melakukan observasi pendahuluan terhadap spesies Mangrove yang terindikasi mati secara masal di Pulau Mantehage, Minahasa Utara. Observasi dilakukan dengan mengunjungi sejumlah titik dimana ditemukan pohon mati pada berbagai level.

Dalam observasi ini, fenomena pohon mati secara masal ditemukan terkonsentrasi pada titik-titik tertinggi di antara dua daratan pada Pulau Mantehage. Kemudian, sebaran kematian berkurang ke arah tepian dan lokasi yang lebih rendah. Di titik-titik pusat pohon mati, didapati sebanyak 14-17 tegakan dalam keadaan mati per 0,01 Ha.

Fenomena tersebut, sebenarnya bukanlah kejadian baru. Hanya saja, yang membuatnya sedikit berbeda adalah tidak terjadinya anomali cuaca dalam bentuk kemarau panjang dalam beberapa tahun belakangan.

Habitat Mangrove di Pulau Mantehage, yang berada di antara dua daratan, terbentuk melalui proses sedimentasi yang berlangsung secara perlahan, menutupi dan menghentikan aliran air di antara dua daratan. Asumsi tersebut dibuktikan dengan adanya aliran sungai pasang-surut yang berkelok-kelok serta dua “kolam” di bagian tengah.

Keadaan ini menyebabkan habitat terendam saat musim penghujan dan kering di musim kemarau. Habitat yang tidak stabil, berubah karena sedimentasi dan cuaca, diduga menjadi sebab fenomena kematian pohon secara masal.

“Mangrove yang tumbuh di habitat seperti ini akan mengalami tekanan (stress) fisiologis secara berulang, sehingga sulit mencapai ukuran besar dan berusia tua. Buktinya, ukuran diameter tegakan yang relatif kecil serta dieback (menuju mati) pada pohon yang relatif berukuran besar,” ujar Rignolda.

Menurut Rignolda, semua pohon mati yang ditemukan, diperkirakan telah mati beberapa waktu sebelumnya dan tidak ditemukan adanya indikasi pohon baru yang mati. Ia memperkirakan, kematian pohon tidak akan berlanjut apabila cuaca pada beberapa bulan ke depan dalam keadaan normal.

Namun, ungkapnya lagi, perkembangan anakan baru di titik-titik pusat pohon mati masih membutuhkan waktu yang belum diketahui secara pasti. Karena, hingga masa observasi, belum ditemukan semaian maupun anakan muda di titik-titik tersebut.

Dalam observasi pendahuluan ini, beberapa rekomendasi diajukan untuk mengurangi risiko kematian pohon. Menurutnya, hal paling mendesak yang perlu dilakukan adalah menghindari penebangan pohon yang mati, karena akan menyebabkan lahan semakin terbuka dan penguapan akan semakin meningkat. Dampak lanjutannya akan diikuti naikknya kadar garam dalam substrat.

Rignolda juga menyarankan perlunya melakukan kajian detil mengenai morfologi lahan (kemiringan) dan geomorfologi (tekstur dan kadar garam substrat), kajian floristik, struktur vegetasi dan tingkat kesehatan mangrove pada lahan yang terindikasi stres, serta penanaman artifisial jenis serupa dengan yang telah mati, bila proses regenerasi tidak berlangsung dalam jangka waktu tertentu.