Belajar sambil praktik. Inilah yang dilakukan warga Desa Deaga, Sulawesi Utara. Hampir sebulan mereka ikut pelatihan membuat gula merah dari nypa, salah satu jenis mangrove.

Valdi Ndala, warga Desa Deaga, mengatakan, mulanya tak banyak masyarakat mengetahui tumbuhan itu bisa diolah menjadi gula merah. Kini, mereka berhasil membuatnya.

Warga melakukan sejumlah percobaan. Misal, menentukan 180 mayang sebagai sampel berdasarkan jenis, 60 mayang muda, 60 matang dan 60 tua. Mereka membersihkan sebagian kulit mayang agar memudahkan sirkulasi air nira. Ujung mayang diikat tali rafia.

Lalu mengetuk-ngetuk mayang perlahan dan berhati-hati guna menghindari kerusakan kulit, sekitar enam jam yang dikerjakan tiga orang.

Langkah ini kemungkinan buat membuka pori-pori mayang guna mengeluarkan cairan nira. Setelah waktu tertentu, buah dipotong, lalu mengikat daun untuk menutup ujung mayang selama 24 jam agar tidak kering dan tak terkena matahari langsung. Lalu, beberapa media bisa digunakan sebagai penampung air, seperti plastik, jerigen atau botol.

“Percobaan selama satu bulan, mayang matang menghasilkan air paling banyak. Sekitar 400-600 ml dalam 1×24 jam,” kata Valdi.

Cairan nira cukup jernih. Tidak berbau dan tidak berwarna. Nyaris menyerupai air mineral. Saya sempat mencicipi. Manis dan sedikit asin.

Setelah penyadapan, 20 ibu-ibu yang terbagi dalam dua kelompok mulai memasak. Mujidah Ambar, mengatakan, air nira dimasak sekitar dua jam agar merah alami. “Tuangkan gula merah ke tempurung. Perlu setengah jam agar keras. Satu liter nira bisa dua cetakan.”

Menurut dia, jika dikelola maksimal gula nypa bisa menjadi peluang usaha bagi warga. Terlebih, produsen gula merah hanya ada di Kotamubagu, belum ada di Bolaang Mongondow Selatan. “Di pasar lokal harga gula merah Rp20.000-Rp30.000. Kalau produksi bisa maksimal, ibu-ibu dapat mendukung peningkatan pendapatan ekonomi.”

Namun, kata Mujidah, perlu tahu teknik lebih tepat dalam memasak gula  ini. Dari sejumlah percobaan, gula nypa tidak sekeras gula merah biasa. “Kalau gula merah lain mudah dipotong. Gula nypa agak kenyal. Mungkin, ada kesalahan, kami perlu mencoba teknik lebih tepat,” katanya.

Yakob Botutihe, pendamping lapangan Perkumpulan Kelompok Pengelola Sumber Daya Alam (Kelola), mengungkapkan, ada keterkaitan antara upaya perlindungan mangrove dan pemanfaatan nypa sebagai gula merah. Dari sana, masyarakat diharapkan bisa menjaga kelestarian mangrove. “Dulu nypa hanya bahan atap rumah atau kayu bakar. Jika jadi gula, peluang ekonomi bisa terbuka. Mangrove terjaga, masyarakat sejahtera.”

Dia mengatakan, jika efektif, penyadapan satu mayang bisa menghasilkan satu liter nira atau dua batang gula per hari. Dari penyadapan 60 mayang, misal, hanya 30 efektif, per hari 60 batang gula merah.

Proses penyadapan nira tadi sekaligus memberi pelajaran bagi masyarakat dalam menghasilkan produk lebih baik. Menurut dia, kontak langsung mayang dengan sinar matahari cukup mempengaruhi ketersediaan nira. Makin teduh mayang, makin banyak air keluar. “Kami akan coba menyadap satu mayang per pohon. Tidak akan lagi penyadapan tiga mayang satu pohon.”

Nypa (Nypa fruticans) merupakan jenis mangrove memiliki  buah seperti pandan dengan panjang bonggol hingga 45 cm. Hasil riset N.M Heriyanto dkk, menyebutkan, areal nypa di Indonesia diperkirakan 700.000 hektar, terluas di dunia dibandingkan Papua Nugini (500.000 hektar) dan Filipina (8.000 hektar).

Rehabilitasi mangrove

Rahman Dako, Project Coordinator MfF-SGF, menilai, Desa Deaga menjadi satu lokasi perlindungan dan rehabilitasi mangrove. Ia bagian Bolaang Mongondow Selatan (Bolsel), salah satu lokasi perikanan strategis di Teluk Tomini. “Bolsel memiliki mangrove relatif terjaga, meskipun dalam catatan kami ada sedikit penurunan tutupan mangrove dalam 10 tahun terakhir.”

Ruslani Mokoginta, Sangadi (kepala desa) Deaga membenarkan pendapat Rahman Dako. Menurut dia, ekosistem mangrove menjadi lokasi pemijahan sumber daya perikanan, seperti kepiting, kerang, kerapuh, dan banyak lagi. “Karena mangrove relatif baik, banyak ikan bisa diambil. Keterikatan masyarakat dengan mangrove cukup kental. Semacam ada kedekatan emosional.”

Perlindungan mangrove penting, bukan hanya dari sisi ekonomi juga perlindungan bencana. Pada 2006,  pemerintah kabupaten (waktu itu Bolaang Mongondow) pernah alih fungsi hutan mangrove menjadi sawah, mencapai 10 hektar. Tak lama, banjir melanda.

Beberapa tahun belakangan,  Desa Deaga menjadi lokasi rehabilitasi mangrove. Beberapa tahun lalu, lewat program sustainable coastal livelihood and management (Susclam) menanam mangrove sekitar 25.000 bibit.  Tahun lalu, Dinas Kehutanan Bolsel menanam 40.000 bibit. “MfF difasilitasi perkumpulan Kelola, sudah 4.200 Rhezopora Sp ditanam di Desa Deaga.”

 

artikel ini dipublikasi pada 1 Januari 2015

sumber: https://www.mongabay.co.id/2015/01/01/gula-mangrove-dari-desa-deaga/