Sejarah

KELOLA (Kelompok Pengelola Sumberdaya Alam) merupakan wadah pelayan rakyat yang bekerja berdasarkan mandat yang dibangun lewat proses kontrak sosial (transaksi) bersama masyarakat. KELOLA lahir dan didirikan tahun 1995 untuk mendorong proses demokratisasi pengelolaan sumberdaya pesisir laut yang adil dan berkelanjutan di Sulawesi bagian Utara. Pertama kali didirikan bentuk lembaga KELOLA adalah Yayasan, tetapi awal tahun 2004 mengalami perubahan dan dibubarkan menjadi Perkumpulan KELOLA.

Dalam perkembangannya, KELOLA menjadi lembaga yang ditujukan untuk menyambung tali mandat gerakan masyarakat secara bersama-sama dan membangun proses belajar untuk saling menguatkan melalui kegiatan-kegiatan studi, studi sosial ekonomi masyarakat, analisa serta kajian pengelolaan sumberdaya pesisir-laut, penguatan kapasitas organisasi nelayan dan advokasi kebijakan pengelolaan sumberdaya alam di Sulawesi Utara dan Gorontalo.


Visi & Misi

VISI

“Meningkatan Kualitas Hidup Rakyat Pesisir”

MISI

  • Peningkatan kapasitas rakyat pesisir untuk mengelola sumberdaya alam;
  • Penguatan ekonomi rakyat pesisir;
  • Pembelaan hak-hak rakyat pesisir atas sumberdaya alam;
  • Pembelaan lingkungan hidup dan sumberdaya alam;
  • Pengkajian sumberdaya alam laut dan pesisir;
  • Pengembangan kerjasama dengan pihak lain.

8 Tahun Setelah MK Batalkan HP3, Bagaimana Kondisi Pesisir Indonesia?

Rabu, 13 Januari 2010, Koalisi Tolak HP3 (Hak Pengusahaan Perairan Pesisir) yang terdiri dari 9 lembaga dan 25 individu perwakilan nelayan, menggugat 14 pasal dalam UU No.27/2007 tentang Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau-pulau Kecil yang dianggap melegalkan perampasan ruang hidup masyarakat pesisir. Mereka menilai, pasal HP3 yang diakomodir UU tersebut bertentangan dengan pasal 33 UUD 1945. Setahun kemudian, 16 Juni 2011, MK mengabulkan gugatan Koalisi Tolak HP3.Read more


Memperkuat Eksistensi Masyarakat Adat Pesisir di Tengah Geliat Pembangunan

Interaksi masyarakat adat pesisir dengan sumberdaya kelautan dalam kurun waktu yang relatif lama, berhasil menciptakan praktik kearifan lokal yang dipertahankan secara turun-temurun. Namun kebijakan dan program pembangunan, yang dinilai bias darat, perlahan-lahan meminggirkan mereka dari ruang hidup dan ruang kelolanya. Sehingga, penguatan dan revitalisasi kelembagaan masyarakat adat pesisir perlu segera dilakukan.Read more


Keren! Desa Deaga Punya Aturan Lindungi Hutan Mangrove

Masyarakat Desa Deaga, Kabupaten Bolaang Mongondow Selatan (Bolsel), berupaya melindungi ekosistem mangrove. Awal Mei 2015, mereka mengeluarkan Peraturan Desa (Perdes) tentang Pengelolaan Ekosistem Mangrove. Pembuatan perdes selama lima bulan ini, melibatkan Badan Permusyawaratan Desa (BPD), tokoh masyarakat, tokoh agama dan tokoh pemuda.Read more


Gula Mangrove dari Desa Deaga

Belajar sambil praktik. Inilah yang dilakukan warga Desa Deaga, Sulawesi Utara. Hampir sebulan mereka ikut pelatihan membuat gula merah dari nypa, salah satu jenis mangrove.Read more


Quo Vadis Pembatalan HP-3

Awal desember silam, nyaris bersamaan dengan semarak Santa Clauss, Presiden menerbitkan peraturan bernomor 122 Tahun 2012 tentang reklamasi di wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil. Sejumlah pasal nampak memberi penekanan mengenai “reklamasi yang baik”, setidaknya itulah harapan di balik kebijakan tersebut. Keputusan itu, seakan memberi karpet merah kepada pengusaha-pengusaha bermodal besar, lewat kaidah normatif yang tak sulit dipenuhi. Walau dalam perkembangannya beresiko menyingkirkan kepentingan publik, terutama masyarakat pesisir.Read more


Hak Nelayan Tradisional di Kawasan Taman Nasional Bunaken

Tulisan di bawah ini merupakan Tajuk Utama dalam Buletin Asosiasi Nelayan Tradisional (Antra) Sulawesi Utara edisi Desember 2013. Kami, setelah meninjau kondisi lapangan dan melakukan wawancara, mencoba menyodorkan analisis yang cukup sederhana agar nelayan tradisional bisa mengenal hak-hak mereka di kawasan konservasi Taman Nasional Bunaken (TNB). Setidaknya, analisis dalam tulisan ini, menunjukkan bahwa ada cerita yang belum tuntas mengenai kondisi di wilayah perairan Bunaken, khususnya terkait eksistensi nelayan tradisional.Read more


Otang, Nelayan yang Melukis Laut

Jika ada nelayan yang melukiskan sesuatu yang dilihatnya, maka orang itu adalah Ristam Djikoan, biasa disapa Otang. Jika cuaca sedang tidak baik, kecintaan pada laut sering dicurahkan dalam selembar kanvas.

Read more


MP3EI: Proyek Kapitalisasi Sumberdaya Alam Indonesia

MP3EI merupakan rambu pembangunan ekonomi di Indonesia, sehingga peraturan di berbagai daerah harus mengacu darinya. Dengan kata lain, peraturan yang dinilai tidak searah dengan konsep MP3EI terancam dihapus atau digantikan.
Read more